Jejak Orang Rantai di Bumi Arang Sawahlunto

Jejak Orang Rantai di Bumi Arang

Sawahlunto, nama kota kecil ini sangat populer. Namanya tidak saja dikenal sekarang dengan Pariwisata-nya. Tapi, gaum nama-nya telah menggema sejak zaman kolonial dulu. Sawahlunto saat itu dikenal sebagai kota penghasil batu bara terbesar di Sumatera Barat.

Bicara soal sejarah Kota Sawahlunto, tak bisa dipisahkan dengan sebutan ‘Kota Arang’ atau ‘Kota Batubara’. Bicara lubang tambang, ceritanya tak bisa dilepaskan pula dari sejarah panjang pekerja paksa. Di kalangan masyarakat lokal mereka disebut ‘Orang Rantai’ (orang yang bekerja kakinya dirantai).
urang Rantai
Orang rantai merupakan orang-orang hukuman yang dibuang. Mereka dipekerjakan sebagai pekerja kasar. Mereka dipisahkan jauh dari kampung halaman oleh bangsa kolonial. Hidup mereka dijauhkan dari kehidupan keluarga, dijauhkan dari lingkungan sosial sebagai akar mereka tumbuh.

Orang rantai yang bekerja sebagai buruh tambang di Sawahlunto adalah anak negeri, anak dari rahim ibu pertiwi juga. Hak mereka dirampas oleh nafsu imperialisme. Orang-oran rantai berasal dari berbagai suku dan etnis di penjuru negeri tercinta Indonesia. Ada Jawa, Sumatera, Madura dan lainnya.

Orang rantai didatangkan ke Sawahlunto oleh bangsa kolonial untuk mengorek ’emas hitam’ (Batubara) yang ada di perut Sawahlunto untuk kepentingan kolonial. Emas hitam itu kemudian dibawa dengan kereta api ke Pelabuhan Teluk Bayur dan dikapalkan menuju negeri kincir angin (Belanda).

Mereka diberlakukan tak manusiawi. Bekerja bercucur peluh dengan kaki dan tangan dirantai. Mereka bekerja dari lubang tambang satu ke lubang tambang lainnya. Tak ada rasa iba, tak ada rasa kasihan bangsa penjajah. Ketika mereka sakit tak pernah diobati. Kalau toh mati, ya mati saja lah.

Tak ada upah, tak ada gaji. Para pekerja Orang Rantai hanya dapat jatah makan dan minum. Menu makan ditakar, tak bisa lebih. Kebutuhan hidup mereka dibatasi. Raga mereka diperas. Jiwa mereka diluluh-lantakan. Mereka tak boleh salah. Salah ditempeleng, ditendang, bahkan ditembak mati.

Tak sedikit dari Orang Rantai ini yang akhirnya menutup kisah panjang perjalanan hidupnya di Bumi Arang, Sawahlunto. Keluarga di negeri asal tak pernah tahu nasib ayah, adik dan anak lelaki mereka. Mereka hilang bak ditelan bumi. Batu nisan saja tak pernah diketahui dimana rimbanya.

Berkunjung ke Sumatera Barat, tak lengkap rasanya jika tak merasakan aura jejak sejarah ‘Orang Rantai di Bumi Arang’ Sawahlunto. Jejak sejarah itu masih tersimpan baik. Sebagian terpahat pilu dibingkai replika diorama yang kini disimpan di bekas dapur umum yang kini jadi Meseum ‘Gudang Ransum‘.

Menelusuri jejak Orang Rantai di Bumi Arang, setidaknya menyeret kita untuk merenung lebih dalam mengenang sejarah kelam perjuangan bangsa ini. Betapa kesat dan hitam langkah masa lalu anak-anak ibu pertiwi. Nasib mereka hitam, se-hitam arang yang mengotori tangan-tangan kokoh mereka.

Suber : (*) Narasi dan Foto by: Tomi Tanbijo

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *